Sejak 2012 saya adalah orang yang menceburkan diri dalam dunia Start up. Berusaha sebisa mungkin untuk membuat sebuah usaha yang berbasis digital.
Selama berproses di usaha ini, tentu kami sering bersinggungan dengan banyak pihak. Baik secara Business to Business, Konsumen (B to C) , Instansi pendidikan, maupun pemerintah. Banyak pengalaman yang enak maupun tidak enak selama berinteraksi dengan semua itu. Kadang selalu saja kita menemui oknum yang berusaha mementingkan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang lain untuk mencari keuntungan besar.
Saya masih teringat betul seorang kawan saya yang juga memiliki start up usaha, dengan menggebu-gebu mengkritisi tingkah laku oknum yang tidak fair menurutnya. Dia menceritakan kronologis tidak-tanduk oknum itu yang memang jika dikaji, menyalahi secara etika maupun hukum.
Di akhir obrolan itu, dengan mengebu-gebu pula kawan saya itu berkata "kalau kita dzolimi gini, mending kita aja yang "bermain" daripada dia (si oknum) yang main enak sendiri gitu"
Saya serta merta tersentak, "lho kok jadi gini?" Jadi selama obrolan tadi bukan mengkritisi kesalahan oknum itu ya? Dia sebenarnya hanya iri dengan oknum itu yang berkesempatan "bermain" dan dapat untung besar untuk kepentingan pribadi.
Saya jadi paham kenapa banyak sekali mahasiswa yang dulu getol sekali demo di gedung DPR. Namun ketika sudah mendapat kursi di DPR dikemudian hari dia sendiri yang juga korupsi.
Benar perkataan Habib Jafar di salah satu channel youtube ,
"Kita sering mengutuk Pencuri, karena kenapa bukan kita yang mencuri"
Komentar
Posting Komentar