Langsung ke konten utama

Manusia Adalah Makhluk Berdaulat yang disayangi penciptaNya



Awal tahun 2020 sebelum pandemi di Indonesia, saya dan keluarga refreshing disalah satu Mall . Sebagai pencinta segala sesuatu yang beroda 4, Mumtaz, anak pertama saya sudah langsung mengincar mobil-mobilan anak dengan remote control. 

Tak lama, sembari istri saya berkeliling dengan Rafan adiknya Mumtaz, saya menemani Mumtaz menaiki mobil-mobilan remot control itu.

Saat itu Mumtaz masih belum benar-benar mengerti cara mengendalikan mobil mainan itu. Sesekali hampir menabrak, saya kendalikan lagi dengan remote control. Berulang kali hampir menabrak benda tertentu, saya luruskan lagi ke jalur yang benar. Dan terus begitu, hingga selesai pada waktu yang sudah ditentukan.

Yang saya lakukan dengan memegang remote control dan mengendalikannya sesekali waktu adalah bentuk rasa sayang dan penjagaan pada seseorang yang saya sayangi, yaitu anak saya sendiri. Relasi sosial yang terbentuk secara automatis antar ayah dan anaknya.

Saya yang tidak menginginkan Mumtaz menabrak benda yang dapat dipastikan menjadi fatal jika terjatuh menimpanya. Disisi lain, Saya juga membebaskan Mumtaz untuk mengendalikan sendiri dengan stir yang dipegangnya. Sebisa mungkin saya beri kedaulatan dia untuk mengendalikan mobil dan belajar darinya.

Anak akan meningkat kemampuan logika dan motoriknya melalui pengalaman bermain mobil-mobilan itu. Disamping itu, selama proses bermain pun menciptakan hormon kesenangan yang dimana akan memicu kembali rasa ingin mengexplore hal-hal baru. Yang dimana hal itu tentu baik untuk perkembangan anak atau manusia secara umum.

Relasi hubungan rasa cinta dan sayang antara Mahluk yang dewasa dan Mahluk yang sedang bertumbuh memanglah seperti itu.

Demikian pula, Pada level yang lebih tinggi. Zat Maha Pencipta dengan Makhluk ciptaannya. Kita Manusia memiliki sepercik hembusan Ruh Tuhan untuk berkasih sayang.


Manusia Adalah Makhluk Berdaulat yang disayangi penciptaNya


 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA "TUHAN" DIMATAMU?

       Mungkin ini akan menjadi postingan yang paling tampak "liberal" haha.. Tapi, sungguh ini adalah kenyataan dan hanya sebuah kontemplasi jika kita merenungkannya. The big question :     Siapa Sosok Tuhan di Matamu? Ke-1 , apakah seperti sosok Rambo? dimana sosok yang kuat, pemberani, dengan mudah menghancurkan dan mengalahkan musuh-musuhnya. Bertindak atas nama keadilan, balas dendam dan perlawanan terhadap kejahatan di bumi?  Bagi yang menyukainya, menarik sekali bukan? menonton aksi-aksi superhero dan film-film action. Membuat semangat menggelora, dorongan perlawanan, pemberontakan terhadap ketidakadilan menjadi bertumbuh.  Namun, ingatlah bahwa Rambo adalah bentuk kerinduan negara mereka dari kejayaan, Faktanya Amerika tidak pernah menang melawan Vietnam. Mereka membuat fantasi yang menenangkan hati dengan membuat tokoh rekaan yang tak terkalahkan, yang selalu ada melindungi mereka, walau faktanya justu sebaliknya. Apakah seperti ini peru...

ISTIDRAJ "di timang-timang sampe lupa"

  Hai Adit, Sama sekali tidak bisa kamu mengukur kemuliaan dengan materi. Hal ini ibarat mengukur panjang jalan dengan timbangan badan. Kemulian diri harus diukur dengan parameter yang sesuai dengan entitas yang sedang diukur itu. Berapa banyak orang di sana yang merasa " be Wise" dengan cara melakukan ke dzaliman?. Baik ke dzaliman kepada orang lain ataupun kepada diri sendiri. Merasa menemukan Tuhannya karena telah merasa terus menerus dicukupi materinya. Jika ingin mengukur kemuliaan diri di mata Sang Pencipta tentu harus memakai indikator-indikator Nya. Bisa melalui Sumber utamanya yaitu Quran. Atau melalui perantara para Ulama. Panjang jalan hanya bisa diukur dengan meteran. dan Kemuliaan diri hanya bisa diukur dengan"KeTaqwaan diri" Ingat ya Dit.... #kata-katapengingatdiri

Valet Sepeda Motor dan Profesionalitas Kerja

Sebagai "New Dad" rutinitas membeli peralatan dan kelengkapan untuk Si Kecil cukup intents. Namun saya tidak akan membahas tentang rutinitas belanja di sini. Di salah satu Toko Swalayan yang cukup dekat rumah, ada hal menarik bagi saya pribadi. Mungkin hal ini biasa saja, namun sempat membuat saya tergelitik untuk mentafakuri hal itu. Kronologisnya seperti ini. Saat saya pertama kali mengunjungi toko swalayan itu. Seperti biasa sepeda motor diparkirkan di depan toko. Terlihat berjejer tukang parkir yang tidak hanya satu atau dua orang saja. Salah satu tukang parkir menyeletuk "Mas, mboten sah di kunci stang nggih" (mas, tidak usah di kunci stang ya).  Saya hanya mengiyakan saja dan bersama Istri memasuki Toko tersebut. Sumber foto: maramissetiawan.files.wordpress.com Setelah kurang lebih 30 menit berbelanja, saatnya pulang. Di pintu keluar ternyata motor saya sudah di posisikan tepat di pintu keluar bersamaan dengan kami melangkah keluar...