Seorang cewek takut menimbang badan selepas lebaran.
Seorang cowok takut mengukur tinggi badan saat mendaftarkan diri ke TNI.
Seorang Bapak-bapak nekad bilang "perut saya langsing kok" atau "buncit itu tanda kemakmuran" saat makanan enak terhidang. Padahal perut sudah kaya ibu hamil 6 bulan.
Seorang kakek nenek dipaksa untuk check kesehatan namun selalu menolak karena takut ketahuan penyakitnya.
Dan lain sebagainya...
Tanpa sadar, mayoritas kita dan termasuk saya sering sekali membohongi diri untuk menghindari yang namanya "mengukur diri". Contoh di atas hanyalah hal hal kecil, namun sudah cukup menunjukkan bahwa kita terbiasa dengan membohongi diri.
Padahal jika dipikir pikir, mengukur diri apa sih susahnya?
Yaa... mungkin bisa saja mudah, jika yang diukur adalah masih dalam satuan fisik. Berat badan bisa diukur dengan timbangan, tinggi cukup dengan meteran, tekanan darah menggunakan tesi meter, dan lainnya.
Namun, bagaimana jika yang kita ukur adalah kemampuan diri, efisiensi waktu personal, kepekaan lingkungan, attitude, dan hal hal non fisik lainnya?
Kalau saja ada alat pengukurnya tentu saya sudah membelinya.
Keberanian mengukur diri menurut saya selalu berhubungan dengan kemampuan mengambil keputusan.
Contoh,
Pada suatu hari Tono mendapat undangan pernikahan sahabatnya di hari minggu. Beberapa menit kemudian dia mendapat telepon dari Bosnya untuk ngantor pada hari minggu dengan upah tambahan karena ada tamu penting. Bersamaan dengan hari itu juga Tono sudah menjanjikan istri dan anaknya untuk liburan bersama. Kebetulan juga, bada subuh pada hari H yaitu hari minggu, dia mendapat kabar bahwa tetangganya kecelakaan terjatuh dari tangga saat memperbaiki langit-langit masjid desanya. Dan satu satunya kendaraan yang terdekat adalah kendaraan milik Tono.
Bisa dibayangkan kan apa yg dirasakan oleh Tono?
Ngeluu boss...
Walau hal seperti ini bukanlah hal yang selalu terjadi tiap hari, namun saya yakin kejadian yang dialami oleh Tono pasti pernah terjadi juga pada kita (tentu dengan jenis kasus yang berbeda pula). Mari kita mencoba membedah kemungkinan apa saja yang akan dilakukan Tono menyikapi hal-hal tersebut :
1. Alt 01: Metode Kuantitatif
Metode ini mengutamakan jumlah kasus yang dikerjakan. Pokoknya sebanyak mungkin yg ter"handle" semakin baik.
Plus: Banyak hal/ topik permasalahan yang terselesaikan.
Minus: Karena pertimbangannya adalah jumlah topik permasalahan sedangkan waktu yang dimiliki manusia terbatas, tentu topik yang dipilih adalah yang ringan terlebih dahulu. Menyebabkan hal-hal yang besar, dan mungkin berdampak besar dimasa depan akan terlewatkan begitu saja.
2. Alt 02: Metode Kualitatif
Metode ini mengutamakan kualitas (tentu saja subyektif). Tidak mementingkan seberapa banyak kasus yang ditangani.
Contohnya: Jika Tono mengutamakan keluarga pasti Dia akan lebih memilih liburan dengan keluarga daripada terganggu mengurus tetangganya di rumah sakit atau harus ke kantor untuk mendapatkan upah tambahan dari Bos.
Walau sekali lagi yang perlu ditekankan, klasifikasi urutan hal penting hingga hal tidak penting, tentu berbeda pada masing-masing orang. Dan memang tidak ada yg salah dan benar, karena hal ini subyektif sekali. Secara otomatis orang memilih metode ini, otaknya akan langsung me"list" atau mengurutkan hal yg penting sampai hal yg kurang penting.
Namun, bisa saja Tono mempertimbangkan bahwa yang utama justru segera mengantar tetangganya ke rumah sakit. Toh hal ini tentu juga berdampak baik kepada keluarganya. Dengan rasa peduli yg ditunjukkan Tono kepada warga sekitar tentu juga warga akan respect dan ikut menjaga keluarganya ketika membutuhkan pertolongan. Sekali lagi keputusan list kualitatif ini di tangan kita sendiri.
Plus: Memilih kualitas tentu dibarengi dengan pertimbangan memilih mana dampak terbesar untuk hidup. Hal ini dapat menguntungkan karena tentu nilainya akan bertumbuh di masa depan. Seperti contoh simbiosis mutualisme antara warga dan keluarga kita jika saling bantu-membantu.
Minus: Pertimbangan metode kualitatif tentu terlihat egoistis di mata beberapa orang yang tidak memahami pertimbangannya. Karena pertimbangan kualitatif ini tentu menambah jumlah penolakan terhadap banyak kasus kasus yang terjadi.
3. Alt 03: Metode "ora kepenak"
Metode ini biasanya orang akan meng iya kan semua hal saat itu juga tanpa pikir panjang. Biasanya ada beberapa sebab, antara lain.
1. Takut dianggap tidak peduli
2. Takut kehilangan kepercayaan dari orang lain
3. Takut dianggap jahat
4. Takut ketinggalan dari temannya (biasanya tipe orang pengekor)
5. Takut kehilangan keuntungan
6. Ingin menjadi heros atau dianggap peduli segala hal
7. Atau memang ingin mendapat pahala berlimpah dengan banyaknya hal yang ditangani dan sebagainya.
Plus: Dalam hal tertentu terutama lingkup orang yang belum mengerti sifatnya secara mendalam pasti akan menganggap orang ini sangat baik. Karena apapun diurus selama diminta tolong.
Minus: Pada satu titik dimana dia sudah tidak mampu meng handle semua hal, pasti mereka yang dimintai tolong dan gagal terlaksana maka akan kecewa. Tentu di masa depan akan merugikan dirinya sendiri.
4. Alt 04: Metode "cuek bebek"
Orang yang menerapkan metode ini biasanya jadi buah bibir masyarakat. Hal itu tentu saja karena hal hal negatif dari orang biasanya lebih diingat masyarakat daripada kebaikan orang itu. Metode ini mengutamakan apa yang enak untuk diri sendiri. Pokoknya hal yg mengenakkan diri sendiri adalah prioritas utama. Tentu yang mengenakkan diri sendiri itu juga sangat subyektif.
Plus: sesaat itu ia tentu lebih santai dan memiliki banyak waktu luang untuk melakukan apapun yang "hanya" ia sukai.
Negatif: menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Atau lebih parahnya masyarakat akan cuek juga kepadanya.
5. Alt 05: Metode Serampang dua belas
Metode ini memegang prinsip
"yang penting jalan dulu nanti dipikir terakhir"
"daripada kebanyakan mikir"
"berbuat sesuatu sekarang, daripada tidak sama sekali"
"Kebanyakan mikir itu salah"
"Banyak pertimbangan itu cupu"
"aaahh... kebanyakan teori"
"Aaahh... yang penting action, action dan action!"
Plus: Berkesan cekatan, berfikir cepat tanggap.
Minus: Oleh sebab cara berfikir yang terburu buru / serampangan tentu akan ada yg dikorbankan (terkadang masalah menjadi pelik). Jika dia typical gigih tentu yang akan menjadi korban dirinya sendiri. Entah fisik, waktu dan mental. Atau jika dia typical yang mudah kendor semangatnya, tentu yang akan menjadi korban adalah orang sekitar yang terkait dengan permasalahan yang sedang terjadi.
6. Alt 05: Metode Bingung
Metode ini adalah metode personal. Lebih kearah psikologis orangnya. Entah pembawaan, entah faktor2 lingkungan. Yang intinya ketika dihadapkan banyak masalah otak jadi underpressure dan justu memicu kebingungan. Metode ini tentu sangat berbahaya, karena jika tidak diubah akan merugikan diri atau bahkan merugikan orang dan lingkungan sekitar.
Plus: -
Minus : semua kerugian tentu akan didapat cepat atau lambat.
Oke, saya rasa sudah cukup mewakili 6 hal metode yang mungkin muncul dari kasus yang terjadi pada Tono.
Pada dasarnya semua keputusan itu mau tidak mau harus dimulai mengukir diri terlebih dahulu.
Saya masih ingat kata kata bijak ini
"Jika masalahmu lebih besar dari dirimu lapauilah, jika tidak mampu, kecilkan masalahmu itu"
To be continue.... "mengukur diri"

Komentar
Posting Komentar