Pagi itu masih diselimuti kabut tipis dan cuaca yang sejuk kota Wonosobo, saya duduk-duduk dengan sekumpulan Bapak-Bapak di smoking area Kantor Imigrasi. Hari itu merupakan acara pengurusan pasport secara rombongan yang dipanitiai oleh Departemen Agama Magelang. Jujur, saya sendiri belum banyak mengenal secara personal Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang ikut rombongan ini. Walaupun begitu, saya percaya, kami memiliki satu tujuan yang sama pada hari itu dan Insyallah begitupun di hari-hari berikutnya, sehingga itu menjadi pengikat kami semua.

Selayaknya basa-basi "kejawen", saya memulai mendekati dua orang Bapak-Bapak, berjabat tangan, saling bertanya asal tempat tinggal, datang dengan siapa dan sebagainya. Tak kurang dari 30menit komunikasi dengan Bapak-Bapak ini sudah mulai mencair. Sesaat kemudian saya menyadari bahwa saya adalah yang termuda diantara seluruh rombongan kali ini, sehingga tentu menimbulkan sedikit rasa sungkan terhadap Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu saat itu.
Cairnya obrolan kami saat itu memancing mereka untuk mengeluarkan gulungan-gulungan tembakau satu persatu dan masing-masing mulai membakarnya. Tak dipungkiri cuaca wonosobo terbilang dingin saat pagi hari seperti itu.
Sesekali saya ditawari dan tentu saja saya menolak karena memang sangat sensitif dengan asap tembakau. Aksi mundur secara sopan biasanya saya lakukan jika kondisi ini terjadi. Salah satu Bapak-Bapak diantara kami pun sudah mulai meninggalkan smoking area. Tidak dipungkiri, yang sebenarnya salah adalah kami yang tidak merokok, karena lokasi ini memang smoking area. Haha...
Terlepas dari itu semua, saya mengurungkan niat untuk meninggalkan lokasi, karena sedang bergulir pembahasan yang cukup menarik menurut saya. Seorang bapak, sebut saja Pak Mat (bukan nama sebenarnya), dia bercerita bahwa dia telah melakukan umroh tiga kali.
Hampir secara bersamaan muncul pemikiran yang sama dengan bapak di samping kiri saya. "Wah berarti pun pengalaman nggih pak". Dan benar saja, obrolan terus bergulir dengan cerita-cerita pengalaman dirinya baik fiskal atapun spiritual. Wejangan-wejangan terus bergulir, sangat menarik dan manfaat, bahkan ada beberapa yang harus saya cacat dalam note.
Cukup lama kami duduk dan ngobrol bersama. Memang saya lebih banyak menjadi pendengar saat itu, obrolan-obrolan mereka benar-benar didominasi oleh obrolan bapak-bapak era tempo dulu. haha... Ya tidak dipungkiri karena rata-rata berusia 60-70 tahunan. saya bahkan belum ada setengah dari umur beliau-beliau ini. Latar belakang mereka pun sangat beragam. Ada yang pensiunan Polisi, PNS, Tentara, dan ada juga yang Wirausaha seperti Pak Mat
Nah, ada topik yang saya angkat dalam tulisan ini. Yaitu, tentang "Urip Ngrekoso". Yap... topik yang sering terdengar di telinga saya sejak kecil. Petuah orang tua yang selalu berkata, jika ingin sukses awalnya harus bersusah-suah terlebih dahulu. "Perihatin" yang konon asal katanya dari kata "perih" dan "hati" atau diterjemahkan sebagai hati yang sakit.
Segala cita-cita kita akan nikmat pada akhirnya setelah melewati proses "urip ngrekoso" dengan metode "perih ati"
Seingat saya ada 5 orang termasuk saya yang sedang duduk-duduk. Untuk mempermudah akan saya beri inisial nama saja, yaitu Pak Andi, Pak Jono, Pak Sutomo, Pak Mat dan Saya sendiri. Dalam beberapa menit bapak-bapak ini secara bergantian mulai melontarkan kisah2 "rekoso"nya masing masing.
Pak Andi adalah pensiunan tentara, bercerita tentang anaknya yang nakalnya nauzubillah Setan, diatur susah sekali. Sampai sampai Pak Jono menyeletuk "Lha anake tentara moso kon ra nakal, hahaha..."
Pak Jono menceritakan kisahnya pada jaman dahulu urip rekoso sudah lumrah, gak semudah sekarang.
Mau mandi menimba sumur dulu.
Mau masak juga harus cari kayu bakar dulu.
Mau makan enak harus nunggu "berkat" hajatan tetangga
Mau mainan harus bikin kerajinan tangan sendiri.
Mau cari kerja layak, harus door to door berjalan masukkan berkas lowongan kerja.
"Boro boro ngono Pak, nek saiki opo2 bocah2 dolanan hape!" "Dikon nandangi rekoso sitik angel"
Mau mandi menimba sumur dulu.
Mau masak juga harus cari kayu bakar dulu.
Mau makan enak harus nunggu "berkat" hajatan tetangga
Mau mainan harus bikin kerajinan tangan sendiri.
Mau cari kerja layak, harus door to door berjalan masukkan berkas lowongan kerja.
"Boro boro ngono Pak, nek saiki opo2 bocah2 dolanan hape!" "Dikon nandangi rekoso sitik angel"
Pak Sutomo, tidak mau kalah menimpali "Nek bocah jaman saiki sekolah wis numpak kendaraan kabeh" "Jaman Ndisik gak ono cah sekolah nge"pit"(orang magelang menyebut motor dengan "pit), "Mlaku kabeh berkilo-kilo"
Dan yang paling ultimate adalah kisah Pak Mat yang sudah umroh 3 kali ini. Tak disangka sangka dia itu awalnya adalah pedagang sapu keliling, berjalan dari magelang ke jakarta dan bandung. Yap, "berjalan" dengan arti sebenarnya, berjalan memakai kedua kaki. Sesekali menumpang kendaraan. Dan tidur di emperan toko sudah menjadi kebiasaan. Itu Pak Mat lakukan selama masih bujangan. Jika sudah habis modal dagang atau uangnya, Beliau akan mampir ke pondokan setempat untuk menumpang dan sekaligus menimba ilmu pastinya. Pak Mat mulai mengikuti apa yang diperintahkan Pak Kyai dan Gusnya.
"Pokokmen aku ra nduwe dunyo rapopo" celetuknya. Beliau diajak Ziarah ke manapun ngikut. Dan disela-sela kesibukannya beribadah, Pak Mat tetap berdagang sapu ijuk. Dan rekosonya lagi tak jarang iya ditipu ataupun merugi.
Duh, saya cuma bisa mbatin sambil geleng-geleng mendengar kisah semacam itu.
Singkat cerita ada ajakan dan perintah dari pondokan untuk ber umroh. Dan itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Pak Mat ini, "Lha duit seko ngendi!"
Namun jika Allah sudah berkehendak tidak akan ada yang bisa menghalangi. Pak Mat mulai dibukakan rejeki untuk mendapat orderan sapu untuk kebutuhan sebuah kios terkenal seluruh wilayah jawa barat.dan singkatnya bisa dipakai untuk umroh Beliau. Dan tidak tanggung-tanggung sudah 3 kali. MasyaAllah!!
"Pokokmen aku ra nduwe dunyo gpp" celetuknya lagi.
Okeee... dan apa yang saya rasakan saat mendengar semua itu? Terenyuh iya, Terinspirasi iya, Tercerahkan iya, dan pastinya sedikit Terintimidasi Hehe...
Bagaimana tidak? Saya adalah representasi dari anak-anak jaman now itu je.. Nggak kenal nimba sumur, makan daging ya Alhamdulillah gak harus nunggu berkat hajatan, SMA ya saya "Ngepit", tapi kalau bikin mainan kulit jeruk sendiri sih masih di jaman saya. Ya, saya tidak se ABG itu (dah punya anak satu kan dah tua, hehe)...
Dan, yang pasti rasa malu yang semalu-malunya di dalam hati kecil saya. Lha Gusti Allah sudah ngepenakke saya kok, dan tidak harus hidup dimasa beliau-beliau ini. lha kurang apa lagi coba?. "Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”
Perkara ada halang rintang di depan kan wajar, wong kita sejatinya hidup itu ujian naik kelas kok.
Belum selesai saya merasa terintimidasi dan malu, Pak Mat bercerita lagi.
Waduuhh, Bapak yang satu ini cerita tambahannya "double ultimate" sekali rekoso-nya. Apa iya kami anak-anak muda harus meniru rekoso yang double ultimate itu?
Lagi-lagi belum selesai saya memikirkan lebih dalam tentang hal ini, Pak Mat mulai bercakap lagi. Seakan tau isi hati saya.
"Lha po dewe meh tiru-tiru koyo Mbah Kyai, kan yo ora...!!"
Eladalah, bener juga. Seketika saya berfikir. Setiap hari dunia berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Tentu perlakuan dan cara menghadapinya akan berbeda-beda.
Dulu Mbah Kyai saat Haji makan hanya menunggu dari kurma jatuh, sekarang yang rekoso itu menunggu antrian Haji yang berpuluh-puluh tahun itu. Subhanallah...
Dulu jalan kaki itu rekoso, sekarang bisa jadi di kota-kota naik motor adalah yang rekoso, lha temen-temennya naik mobil semua. Yang harus dilawan ya rasa iri dan gengsi itu sendiri...
Bagaimana tidak? Saya adalah representasi dari anak-anak jaman now itu je.. Nggak kenal nimba sumur, makan daging ya Alhamdulillah gak harus nunggu berkat hajatan, SMA ya saya "Ngepit", tapi kalau bikin mainan kulit jeruk sendiri sih masih di jaman saya. Ya, saya tidak se ABG itu (dah punya anak satu kan dah tua, hehe)...
Dan, yang pasti rasa malu yang semalu-malunya di dalam hati kecil saya. Lha Gusti Allah sudah ngepenakke saya kok, dan tidak harus hidup dimasa beliau-beliau ini. lha kurang apa lagi coba?. "Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”
Perkara ada halang rintang di depan kan wajar, wong kita sejatinya hidup itu ujian naik kelas kok.
Belum selesai saya merasa terintimidasi dan malu, Pak Mat bercerita lagi.
"Mbiyen Mbah Kyai .....(tidak saya sebutkan namanya) jaman mangkat kaji nang mekkah kwi mangan cuma ngenteni kurmo sing tibo seko wit tok"
"Nek kurmone ora tibo yo ra mangan"
"Teko nerimo ing pandum"
Lagi-lagi belum selesai saya memikirkan lebih dalam tentang hal ini, Pak Mat mulai bercakap lagi. Seakan tau isi hati saya.
"Lha po dewe meh tiru-tiru koyo Mbah Kyai, kan yo ora...!!"
Eladalah, bener juga. Seketika saya berfikir. Setiap hari dunia berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Tentu perlakuan dan cara menghadapinya akan berbeda-beda.
Dulu Mbah Kyai saat Haji makan hanya menunggu dari kurma jatuh, sekarang yang rekoso itu menunggu antrian Haji yang berpuluh-puluh tahun itu. Subhanallah...
Dulu jalan kaki itu rekoso, sekarang bisa jadi di kota-kota naik motor adalah yang rekoso, lha temen-temennya naik mobil semua. Yang harus dilawan ya rasa iri dan gengsi itu sendiri...
Dulu mau lamar kerja harus datang satu-satu memasukkan lamaran itu rekoso, sekarang memang benar sudah ada internet, tapi mungkin yang rekoso itu godaan untuk cari kerja atau malah buang waktu main t*k t*k.. (nama aplikasi saya samarkan, sebut saja namanya aplikasi goblok)
Dulu harus bersabar karena mau mandi aja harus nimba sumur, sekarang yang rekoso itu melihat tarif air dan listik yang naik terus. Ya Allah...
Dulu mau masak harus cari kayu bakar itu rekoso, sekarang yang rekoso itu melihat harga gas elpiji yang naik melulu. Astagfirullah...
Ya standar "Rekoso" memang akan selalu berubah seiring dengan perubahan itu sendiri. Selayaknya standar ujian sekolah dan kurikulum yang berubah mengikuti perkembangan jaman. Toh Allah Maha Adil, tentu paham betul ujian apa yang sesuai dengan masing-masing dari kita. Yang patut kita garis bawahi adalah bagaimana cara agar kita lulus dari ujian tersebut.
Setiap pertumbuhan selalu ada ujian untuk melewati pertumbuhan itu. Dan itu alamiah.
Anak kecil mau tumbuh dewasa harus merasakan sakitnya gigi copot satu persatu.
Anak kecil yang berlatih berjalan harus terjatuh ratusan kali sebelum akhirnya lancar berjalan.
Dan Anak laki-laki yang jantan harus merasakan sakitnya "sunat" terlebih dahulu.
*kisah ini nyata, nama-nama saya samarkan, dialog tidak persis, tetapi intinya sama.
Dulu harus bersabar karena mau mandi aja harus nimba sumur, sekarang yang rekoso itu melihat tarif air dan listik yang naik terus. Ya Allah...
Dulu mau masak harus cari kayu bakar itu rekoso, sekarang yang rekoso itu melihat harga gas elpiji yang naik melulu. Astagfirullah...
Ya standar "Rekoso" memang akan selalu berubah seiring dengan perubahan itu sendiri. Selayaknya standar ujian sekolah dan kurikulum yang berubah mengikuti perkembangan jaman. Toh Allah Maha Adil, tentu paham betul ujian apa yang sesuai dengan masing-masing dari kita. Yang patut kita garis bawahi adalah bagaimana cara agar kita lulus dari ujian tersebut.
Setiap pertumbuhan selalu ada ujian untuk melewati pertumbuhan itu. Dan itu alamiah.
Anak kecil mau tumbuh dewasa harus merasakan sakitnya gigi copot satu persatu.
Anak kecil yang berlatih berjalan harus terjatuh ratusan kali sebelum akhirnya lancar berjalan.
Dan Anak laki-laki yang jantan harus merasakan sakitnya "sunat" terlebih dahulu.
*kisah ini nyata, nama-nama saya samarkan, dialog tidak persis, tetapi intinya sama.


Komentar
Posting Komentar