Langsung ke konten utama

Monopoly VS Ular Tangga


Di pagi yang cerah, dengan wajah sumringah, Ucil menenteng lembaran kertas Ular tangga bergambar karakter animasi, sebulir dadu, dan 5 bidak warna-warni. Permainan ular tangga itu didapatnya dengan menukarkan botol-botol bekas ke tukang loak yang dapat ditukar dengan satu set permainan itu.

Dua kawannya Adi dan Budi sudah menunggu di tempat biasanya Ucil dan teman-temannya bermain, di halaman rumah Bobi. Tikar daun kelapa tergelar dibawah pohon rindang, air berhembus sepoi-sepoi, burung berkicau, menari-nari di antara dahan pohon.

Ucil: "Hai teman-teman, aku bawa ular tangga nih."
Adi: "Mantap!! ayok main"
Ucil: "Bobi mana teman-teman?"
Budi: "Masih di dalem rumah, ntar juga nyusul, yuk main ular tangga dulu sekali putaran"

Ucil menggelar papan ular tangga ditengah-tengah lalu membagi bidak warna-warni kepada dua temannya. Ucil sejak dulu sangat menyukai permainan ini. Kombinasi antara peluang, keberuntungan dan kesabaran. Sesekali hiburan muncul saat pemain yang sudah di ujung tujuan harus turun kembali ke nomor kecil karena terkena ekor ular.

Ucil selalu mengajak temannya mengisi waktu kosong dengan bermain ular tanga. Bukan tanpa alasan, mengapa Ucil paling suka memainkan ular tangga. Ya... begitulah, Si Ucil dengan tampang pas-pasan dan otak pas-pasan juga, bahkan nilai akademis tertingginya paling-paling 7,5. Tapi entah mengapa sepasang mata sang dewi fortuna menjadi buram minus seketika melihat kekurangan Ucil itu. Ucil dalam hal bermain ular tangga hampir tidak pernah kalah. Sesekali kalah pun mungkin karena sang dewi sedang khilaf memakai kacamatanya.

Ucil : "Yess... aku finish duluan...."
Budi: "Hmm... Ucil lagi yang menang..."
Ucil : "Hahaha..." "Udah dilanjutin dulu aja sampai finish" "Sabar dong ntar kan juga sampe"

Ucil membanggakan keberuntungannya. Merebahkan badannya di tikar menikmati kemenangan sembari menatap awan cerah yang beriring.

Tidak lama kemudian Adi finish dan disusul Budi.

Bobi : "Hai semua..."
Ucil  : "Lama banget Bob?" Ucil menoleh dalam posisi masih berbaring di tikar.

Bobi berdiri didekat tikar sambil menenteng kotak permain monopoly. Tersenyum dengan wibawa, kemudian menujukkan kotak monopoly yang dibawanya kepada teman-temannya itu.

Sumber Foto: dianpermata-sari.blogspot

Bobi:  "Sori guyss... aku baru dipanggil Papaku"
           "Nih, baru aja di beliin Monopoly"
           "Lebih seru daripada ular tangga lho..."

Ucil beranjak dari tempatnya berbaring. Tatapannya menuju kotak permainan Monopoly yang megah itu.

Adi dan Bobi : "Wah keren... ayok kita main!!" mereka hampir dengan serentak menyahut.

5 Menit pertama diisi dengan penjelasan Bobi tentang cara bermainnya.
Setelah Permain dumulai,
5 Menit kedua, Ucil mulai gelisah.
5 Menit ketiga Ucil mulai garuk-garuk kepala
5 Menit keempat Ucil mulai angkat bicara

Ucil  : "Lho ini aku harus bayar karena ngelewati kotakmu?"

Bobi :"Ya emang gitu cara mainnya Cil..."
Adi   :"Ah kamu gak asik Cil, komplain melulu, Makanya pakai STRATEGI dong...!!"
Budi :" Makanya, sering-sering beli tanah dan rumah, biar bisa narik pajak kalau ada orang lewat,,,"

5 Menit kemudian, Ucil bangkrut karena tidak mampu berstrategi.

Setelah 3 kali putaran main Bobi, Adi dan Budi bergiliran menjadi pemenang.

Dan Ucil?

Selalu Bangkrut lebih awal.

Tidak ada yang berbeda dengan bermain ular tangga, Ucil tetap paling pertama selesai. Tetapi biasanya Ucil Menang, Sekarang selalu kalah.

Runtuh sudah masa kejayaan Ucil.

Masa sekarang adalah masa penuh dengan persaingan.

Siapa yang berkuasa dan pintar berstrategi adalah pemenangnya.

Siapa yang bimbang dan ragu tergilas monopoli lawan.

Siapa yang membantu lawan bersiap kalah.

Tidak ada lagi pemain yang mencapai finish.

Tidak ada lagi jalan yang pasti. Segala kemungkinan selalu muncul dan penuh pertimbangan.

Tidak ada lagi tujuan yang satu, yang ada adalah membuat diri berkuasa dan lawan harus bangkrut dengan cara memonopoli.

Tidak ada lagi dukungan support kepada pemain lain untuk menyelesaikan tujuan akhir, Karena mendukung lawan sama saja membuat diri kalah dalam permainan.

Tidak ada lagi masa-masa dimana lemparan dadu menjadi hal yang utama.

Tidak ada lagi mengandalkan keberuntungan, sang dewi fortuna telah memilih operasi lasik untuk dapat mengobati mata minusnya secara permanen. Dan sadar betul Ucil bukanlah laki-laki yang layak mendapatkan keberuntungan.



Ucil mengambil selembar kertas ular tangganya yang setelah diamati tampak lusuh karena seringnya dipakai bermain. Bidak warna-warni dan dadu di kantonginya, kemudian Ucil bangkit dan berkata.

"Aku pulang kerumah dulu ya..."

Budi :"Ah cemen kamu Cil, masa gitu aja kabur..."

Ucil : "Enggak dong, soalnya aku sudah janji bantuin bapakku benerin kandang ayam dulu  "

Bobi :"Yawdh, besok main monopoly lagi ya di rumahku"

Ucil: "Oke..."

Ucil berjalan perlahan menuju rumahnya. Dalam hati kecilnya berkata

"Aku dipecundangi sistem..."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA "TUHAN" DIMATAMU?

       Mungkin ini akan menjadi postingan yang paling tampak "liberal" haha.. Tapi, sungguh ini adalah kenyataan dan hanya sebuah kontemplasi jika kita merenungkannya. The big question :     Siapa Sosok Tuhan di Matamu? Ke-1 , apakah seperti sosok Rambo? dimana sosok yang kuat, pemberani, dengan mudah menghancurkan dan mengalahkan musuh-musuhnya. Bertindak atas nama keadilan, balas dendam dan perlawanan terhadap kejahatan di bumi?  Bagi yang menyukainya, menarik sekali bukan? menonton aksi-aksi superhero dan film-film action. Membuat semangat menggelora, dorongan perlawanan, pemberontakan terhadap ketidakadilan menjadi bertumbuh.  Namun, ingatlah bahwa Rambo adalah bentuk kerinduan negara mereka dari kejayaan, Faktanya Amerika tidak pernah menang melawan Vietnam. Mereka membuat fantasi yang menenangkan hati dengan membuat tokoh rekaan yang tak terkalahkan, yang selalu ada melindungi mereka, walau faktanya justu sebaliknya. Apakah seperti ini peru...

ISTIDRAJ "di timang-timang sampe lupa"

  Hai Adit, Sama sekali tidak bisa kamu mengukur kemuliaan dengan materi. Hal ini ibarat mengukur panjang jalan dengan timbangan badan. Kemulian diri harus diukur dengan parameter yang sesuai dengan entitas yang sedang diukur itu. Berapa banyak orang di sana yang merasa " be Wise" dengan cara melakukan ke dzaliman?. Baik ke dzaliman kepada orang lain ataupun kepada diri sendiri. Merasa menemukan Tuhannya karena telah merasa terus menerus dicukupi materinya. Jika ingin mengukur kemuliaan diri di mata Sang Pencipta tentu harus memakai indikator-indikator Nya. Bisa melalui Sumber utamanya yaitu Quran. Atau melalui perantara para Ulama. Panjang jalan hanya bisa diukur dengan meteran. dan Kemuliaan diri hanya bisa diukur dengan"KeTaqwaan diri" Ingat ya Dit.... #kata-katapengingatdiri

Valet Sepeda Motor dan Profesionalitas Kerja

Sebagai "New Dad" rutinitas membeli peralatan dan kelengkapan untuk Si Kecil cukup intents. Namun saya tidak akan membahas tentang rutinitas belanja di sini. Di salah satu Toko Swalayan yang cukup dekat rumah, ada hal menarik bagi saya pribadi. Mungkin hal ini biasa saja, namun sempat membuat saya tergelitik untuk mentafakuri hal itu. Kronologisnya seperti ini. Saat saya pertama kali mengunjungi toko swalayan itu. Seperti biasa sepeda motor diparkirkan di depan toko. Terlihat berjejer tukang parkir yang tidak hanya satu atau dua orang saja. Salah satu tukang parkir menyeletuk "Mas, mboten sah di kunci stang nggih" (mas, tidak usah di kunci stang ya).  Saya hanya mengiyakan saja dan bersama Istri memasuki Toko tersebut. Sumber foto: maramissetiawan.files.wordpress.com Setelah kurang lebih 30 menit berbelanja, saatnya pulang. Di pintu keluar ternyata motor saya sudah di posisikan tepat di pintu keluar bersamaan dengan kami melangkah keluar...