Langsung ke konten utama

Berburu Quran Madinah "tergiring" ke Sokaifat Bani Saedah


di sisi belakang masjid Nabawi, belakang kawasan raudoh.

Selama masa "arbain", sebelum masuk adzan Sholat Ashar saya sengaja "menghadang" dipintu masuk sebelah utara, atau tepatnya di belakang kawasan roudhoh. Tidak dipungkiri wilayah raudhoh bak magnet bagi jamaah haji di seluruh dunia, karena di tempat itulah (antara makam Rasul dan mimbar masjid) taman surga yang ada di dunia ini mewujud. Tak terkecuali saya, ada rasa yang mendorong saya untuk mendekat ke wilayah itu, untuk Sholat sunnah, atau sekedar memanjatkan doa dan beramal ibadah apapun di sana. 

Benar saja, saat pembatas dibuka Alhamdulillah saya dapat masuk ke dalam masjid utama nabawi di bawah kubah hijau, dan saya menunggu hingga Adzan Ashar dikumandangkan. Saya duduk di shof yang tidak berjauhan dengan tiang masjid yang bertumpuk Quran Madinah yang sudah saya incar semenjak di tanah air untuk memilikinya. Tidak berfikir panjang, saya langsung mengambil Quran madinah tersebut dan membaca beberapa lembar.

Mendekati pukul 15.50 saya selesai membaca dan iseng bertanya ke bapak sebelah kanan saya. Dimanakah saya bisa membeli Quran Madinah ini? . Dengan singkat Bapak tersebut berkata bahwa di sebelah barat masjid ada yang berjualan. Tak lama kemudian Adzan berkumandang, kami semua Sholat, setelah selesai, dengan cepat bak Naruto set... set... set... saya menyempatkan sejenak memasuki wilayah raudhoh yang penuh sesak manusia.

Tempat favorit saya di dekat tempat pengimaman versi lama, sedikit di bawahnya, karena tidak terlalu di ganggu oleh Askar Haji yang sangat faseh berkata "yalla ya Haji". Pokoknya harus cepat karena antrian jamaah sangat panjang dan terkadang mengganggu jalur lalu lintas keluar masuk Raudhoh.

Setelah selesai di raudhoh sekitar pukul 16.30 (AST) saya sengaja untuk tidak kembali ke hotel. Jiwa menjelajah saya mulai muncul, hehe... maklum baru hanya beberapa hari saja saya di Madinah, dan belum mengetahui secara detail kawasan Masjid dan sekitarnya. Tentu saja masih penasaran untuk mencari lokasi baru.

Biasanya untuk berjalan pulang ke hotel saya melalui pintu nomer 6. Yakni pintu sebelah barat daya masjid paling pojok. Namun, kali ini saya memutar berjalan ke arah utara dan keluar melalui pintu barat. Menyusuri gang gang pertokoan mencari cari penjual Quran madinah. Benar saja, seperti yang diinfokan bapak tadi, ada yang menjual Quran Madinah di sisi barat. Namun, setelah saya bertanya harganya saya cukup kaget karena yang kecil saja cukup merogoh kocek. Saya lalu mengurungkan niat terlebih dahulu. Apalagi ada niatan saya untuk tidak membeli 1 buah saja.

Diakhir cerita menjelang kepulangan ke tanah air saya sangat bersyukur tidak jadi membeli di madinah karena saya mendapatkan informasi dari jamaah lain bahwa Quran madinah yang saya akan beli itu adalah palsu. Dan harga yang asli sama persis. Alhamdulillah saya di takdirkan untuk membeli untuk sendiri dan mewakafkan Quran madinah ini justru di Masjidil Haram. Tidak berhenti disitu tanpa diduga duga ternyata di Jeddah malah dibagikan secara gratis tis Quran Madinah versi besar untuk dibawa pulang. At least saya punya satu Quran Madinah kecil untuk bisa saya bawa-bawa dan yang besar di letakkan di mushola rumah. MasyaAllah...

Setelah mengurungkan niat untuk tidak membeli Quran di kios itu, saya putuskan saja untuk menyusuri sekitaran masjid nabawi. Dari sisi barat sebelah utara hingga sisi selatan sebelah barat menuju hotel.

Satu hal yg tercetak di ingatan saya, kota madinah sekitar masjid nabawi ini memang bersih, tata kotanya rapi dan lalu lintas kendaraan bermotor tidak terlampau banyak. Entah kondisi ini terjadi setiap hari atau hanya saat musim haji tiba saja. Yang pasti suasana ini sangat menyenangkan dan menenangkan.








Saya terus bergerak menyusuri jalan jalan hingga sampai lah saya di tempat yang menarik perhatian. Sebuah taman yang sangat hijau. "Lho kok ada taman hijau yang rindang sekali di kota yang gersang dan panas ini?".

Tidak ambil pusing saya segera bergegas ke taman yang ada tepat di depan saya itu. Di pintu masuk tertulis "Sofaikat bani saedah". Saya masih menduga duga taman apa ini. Nama Bani Saedah rasa rasanya tidak asing. Sangat kebetulan akhir-akhir ini saya sering menonton serial tv Omar Bin Khattab yang sering di putar di TV nasional Indonesia saat bulan ramadhan. Dan Bani Saedah saya pikir merupakan salah satu bani dari golongan Anshor Madinah/ Yastrib.


Papan informasi Sokaifat Bani Saedah

Benar saja, setelah membaca detail penjelasan di papan tersebut, ternyata taman ini adalah lokasi dimana sempat terjadi perdebatan siapakah yang akan memimpin umat muslim selepas Rasulullah Meninggal. Peristiwa ini terjadi bahkan belum dilakukannya pemakaman Rasul. Golongan Anshor telah berkumpul di aula bani saedah dan telah terbaring Saad Bin Ubadah dikelilingi oleh kaumnya. Saad Bin Ubadah merupakan pemimpin Bani Saedah akan ditunjuk oleh golongan anshor untuk menjadi Kalifah selepas Nabi meninggal.

Hanya saja dengan kepiawaian bertutur Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah kepemimpinan selepas Nabi Meninggal akhirnya tetap di pegang oleh suku Quraisy dari golongan muhajirin yang dimana Nabi sendiri adalah dari suku Quraisy. Dalam benak penduduk arab kebanyakan pada saat itu, Suku Quraisy adalah suku unggulan dibanding suku-suku yang lain.

Saat itu Abu Bakar mencalonkan Umar Bin Khattab atau Abu Ubaidah untuk dipilih menjadi khalifah. Namun, Umar Bin Khattab tidak menyetujuinya. Menurut Umar bin Khattab, ditolaknya dirinya oleh Rasulullah menggantikan imam sholat saat Rasul Sakit adalah isyarat bahwa Abu Bakar lah yang pantas menjadi khalifah selepas Rasul Meninggal.

Singkat cerita mereka dari Muhajirin dan Anshor yang berkumpul di Sokaifat itu bersepakat bahwa Abu Bakar lah yang paling layak. Dan Mereka berbondong-bondong menyalami dan membaiat Sayidina Abu Bakar Assidiq.


Illustrasi sokaifat bani saedah pada era Khulafaurasiddin

Saya merasa beruntung "tergiring ke taman ini", karena taman ini memang tidak terlalu terkenal dibanding lokasi ziarah lainnya, seperti Makam Rasul dan dua Sahabatnya, Makam Baqi yang luas, Jabal Uhud yang di dekatnya terbaring jasad Syuhada Sayidinna Hamzah RA, Masjid Quba masjid yang didirikan pertama kali oleh Rasul dan Sahabat, dan tempat tempat terkenal lainnya.



Sokaifat bani saedah kondisi saat ini

"Assalamualika ya Khalifaturrasulillah Aba Bakr Assidiq" :)

“Selamat sejahtera padamu wahai khalifah Rasulullah selamat sejahtera padamu wahai teman Rasulullah dalam gua, selamat sejahtera padamu wahai orang yang mendermakan semua hartanya karena cinta kepada Allah dan rasul-Nya. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baiknya. Balasan dari umat Rasulullah dan sungguh engkau telah menggantikan Rasulullah sebagai khalifah yang baik, dan engkau telah menempuh jalan dan jejaknya dengan sebaik-baiknya, engkau telah membela Islam, engkau telah menghubungkan silaturrahim dan engkau senantiasa menegakkan kebenaran sampai akhir hayat. Maka selamat sejahtera padamu dan rahmat serta berkat Allah juga untukmu.”

Terima kasih telah memberikan contoh kepada kami betapa kekuatan itu bukan hanya dari fisiknya. Seperti yang di sabdakan Rasulullah SAW. Tetapi keteguhan iman, ketaqwaan dan pengendalian jiwalah yang memperkuat Abu Bakar RA Sang Khalifah pertama. 



Komentar